Harga Timah Global Melesat 31,07% ke US$ 53.156 per Ton Jadi Katalis Saham TINS, Disparitas Harga Picu Penyelundupan Berkedok Kardus Minyakita di Belitung

(Foto: Petugas PT Timah saat mengecek Ingot di PT Timah Tbk/Ist)

Keresahan mendalam ini diungkapkan langsung oleh salah satu perwakilan penambang rakyat di Belitung Timur, Abdurrahman.

“Sekarang hanya PT Timah yang menerima dan bisa membeli lantaran beberapa perusahaan tutup karena kasus korupsi. Yang bermain di Belitung kini hanya orang-orang yang memiliki modal dan membeli timah penambang dengan harga murah,” ujar Abdurrahman dengan nada kecewa.

Abdurrahman membeberkan, ketimpangan harga yang terlampau jauh antara pasar domestik dan pasar internasional kini mulai memicu potensi kejahatan baru, seperti kasus penyelundupan yang baru saja digagalkan aparat. Perbandingan harga internasional yang berada di level Rp 903.652 juta per ton (atau sekitar Rp 903.652. per kilogram) terasa sangat jomplang dengan realitas pembelian di tingkat lokal yang hanya dihargai Rp 120 ribu per kilogram.

“Bagaimana nasib kami para penambang, hasil kami menambang dibeli dengan harga murah sekali. Harga di sini hanya Rp 120 ribu (per kilogram), padahal di luar negeri beberapa bulan lalu hampir mencapai Rp 1 juta,” tuturnya pilu.

Mewakili suara hati ribuan penambang rakyat, Abdurrahman pun menaruh harapan besar pada kepemimpinan nasional yang baru agar memperhatikan nasib mereka.

Spread the love

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *