(Foto: Muhammad Rosidi aktivis Bangka Belitung/Ist/Alfan Noer)
JAKARTA, JURNAL-INDONESIA.COM || Penanganan perkara dugaan korupsi tata niaga komoditas timah di Bangka Belitung terus memicu gejolak publik. Aktivis nasional, Muhammad Rosidi, mengungkapkan adanya berbagai kejanggalan, mulai dari potensi perkara ganda (double case) hingga dugaan praktik penyuapan, pemerasan, dan gratifikasi yang melibatkan oknum penegak hukum serta broker dalam penanganan kasus tersebut.
Pernyataan menohok ini disampaikan Muhammad Rosidi dalam wawancara mendalam via telepon bersama wartawan Jurnal-Indonesia.com, pada Jumat (11/9/2026).
Perkara yang ditangani di tingkat daerah ini telah menetapkan 11 orang tersangka, yang terdiri dari 9 pengusaha/pemilik CV (bos timah) dan 2 mantan pejabat PT Timah Tbk:
9 Bos Timah / Perusahaan Swasta:
- Kurniawan Effendi Bong alias Afat (anak Sin Khin Hian / TJ Mart / Teman Jaya)
- Yusuf alias Yuyu (anak Arifin / CV Candra Jaya)
- Doni Indra (CV Diratama)
- Harianto (anak Hajinkong / CV SR Bintang Babel)
- Agus Slamet Prasetyo (PT Indometal Asia)
- Steven Candra (anak Kim Tjoan / PT Usaha Mandiri Bangun Persada)
- Hendro (anak Eu Jongsem / CV Bintang Terang)
- Hanizaruddin (PT Bangun Basel)
- Usman Hamid alias Cengkiong (anak Hamid / Usman Jaya Makmur)
2 Mantan Pejabat PT Timah Tbk:
- 10. Ahmad SubagDja (Mantan Dirops PT Timah)
- 11. Nur Adi Kuncoro (Mantan Perencana Operasi PT Timah)
Aktivis Ungkap Indikasi Pemerasan, Penyuapan, dan Peran “Broker”
Muhammad Rosidi menyoroti dugaan indikasi permainan di balik panggung penanganan kasus timah sejak penyidikan skala besar bernilai Rp300 triliun bergulir di era Jampidsus Febrie Adriansyah.
Menurutnya, ada dugaan kuat terjadinya tindakan pemerasan terhadap para penambang maupun pengusaha, serta praktik penyuapan agar pihak-pihak tertentu terbebas dari jerat hukum.
“Mengapa saya bilang dugaan memaksakan kasusnya terlalu kencang? Karena belum selesai di 300 T, Kejari Bangka Selatan sudah naikin yang 9 CV ini. Diduga Kurniawan Effendi Bong (Afat) ini diperas di kasus 300 T. Di sisi lain, ada indikasi gratifikasi dan suap yang kencang di Bangka Belitung. Penambang-penambang yang ditarik duitnya, yang ditarik barang buktinya, sampai ada yang intervensi dan meninggal dunia,” ungkap Muhammad Rosidi kepada JIC, Jum’at (11/9/2026).
Ia menambahkan bahwa jaringan ini diduga memanfaatkan tangan-tangan pengacara hingga “broker” lokal untuk memuluskan praktik negoisasi di lapangan.
“Kita tahu jaringannya. Dari lawyer mereka, diduga lewat orang-orang kepercayaannya Febrie… Di Bangka Belitung ada broker-brokernya, kita tahu juga! Mengapa ada pihak yang dipanggil tapi lepas? Karena diduga ada posisi negosiasi dan suap di situ. Yang tidak menyuap atau melawan, baru dijadikan tersangka,” tegas Rosidi.
Kritik Tebang Pilih dan Desak Pengusutan Kluster Kolektor Belitung
Rosidi juga mempertanyakan asas kesetaraan di hadapan hukum (equality before the law). Ia menilai penanganan kasus di Bangka Selatan terkesan tebang pilih jika dibandingkan dengan wilayah Bangka dan Belitung yang memiliki ratusan perusahaan/CV dan kolektor penyuplai timah ilegal dengan pola kerja sama yang identik.
Di Bangka Belitung khususnya Belitung itu ada puluhan hingga ratusan kolektor seperti Rudi alias Awui, Asu Damar, Ahyen, Tungki Aribowo, Hendri alias Asui, Rudi Selim, dan lainnya yang sudah dipanggil tapi statusnya masih berproses.
“Banyak kolektor yang jadi saksi di persidangan mengaku menambang ilegal dan menyuplai timah ke smelter. Mengapa mereka tidak disikat? Ratusan miliar bahkan triliunan aset negara masih kececer di sana!” ujarnya.
Rosidi memperingatkan agar Kejari maupun Kejagung menyelesaikan dulu kluster besar 300 triliun agar tidak terjadi double case atau tuduhan ganda pada objek perkara yang sama.
Guna mengusut tuntas keterlibatan oknum dan memulihkan kerugian keuangan negara secara menyeluruh, Rosidi mengaku telah bersurat dan siap beraudiensi langsung dengan pimpinan Komisi III DPR RI.
“Saya sudah siapin ke Komisi III DPR RI, siap audiensi dengan Pak Habiburokhman dan Pak Cucun Ahmad Syamsurijal. Kita ingin bongkar semuanya agar tidak ada celah negosiasi dan tidak ada tebang pilih. Kalau mau jadi pahlawan buat negara, ayo sikat semua untuk Indonesia!”ย pungkas Rosidi.
Hingga berita ini diturunkan pihak terkait masih dalam upaya konfirmasi awak media Jurnal-Indonesia.com. (AL)



