(Foto: Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman saat mengecek stok beras/Ist/Muhammad Ilyas Ferdinan)
JAKARTA, JURNAL-INDONESIA.COM || Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan pasokan dan cadangan pangan nasional dalam kondisi aman serta terkendali di tengah kepanikan global akibat ancaman krisis iklim dan dinamika geopolitik dunia.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan Indonesia memiliki fondasi produksi dalam negeri yang kuat sehingga mampu mengantisipasi potensi gangguan rantai pasok global.
“Alhamdulillah, kita patut bersyukur. Di saat dunia sedang menghadapi ketegangan geopolitik, ancaman krisis pangan, dan gangguan rantai pasok, kondisi pangan Indonesia relatif aman. Kita punya produksi dalam negeri, punya cadangan, dan terus memperkuat kemampuan memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Ini yang harus kita jaga,” ujar Amran dalam keterangan resminya, Minggu (1/11/2026).
Pernyataan ini merespons langkah ketat sejumlah negara luar. Sedikitnya 33 negara termasuk Inggris dan Jepang mulai mengimbau warganya untuk mengamankan stok logistik darurat mandiri seperti bahan pokok, air bersih, dan obat-obatan untuk kebutuhan tiga hari hingga sepekan ke depan. Imbauan tersebut dikeluarkan guna mengantisipasi risiko konflik bersenjata, serangan siber pada infrastruktur vital, hingga cuaca ekstrem.
BACA JUGA :
Menanggapi kerentanan global tersebut, Amran menegaskan Indonesia fokus memperkuat pertahanan pangan mandiri tanpa bergantung pada impor.
“Kita tidak boleh bergantung pada negara lain untuk urusan pangan. Bayangkan kalau terjadi konflik besar, jalur perdagangan terganggu, negara-negara menahan ekspornya, sementara kita masih bergantung pada impor. Risikonya sangat besar,” tegas Amran.
Berdasarkan kalkulasi data Kementan per 26 Oktober 2026, total ketersediaan beras nasional saat ini mencapai 25 juta ton. Jumlah tersebut terbagi ke dalam tiga lini utama:
- Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Perum Bulog: 4,5 juta ton.
- Potensi Panen (Standing Crop): 10 juta ton.
- Stok Sektor Hotel, Restoran, dan Katering (Horeka): 10 juta ton.
Dengan rata-rata konsumsi beras nasional sekitar 2,5 juta ton per bulan, total pasokan 25 juta ton dinilai lebih dari cukup untuk menjaga stabilitas ketahanan pangan Indonesia dalam beberapa bulan ke depan.
“Kalau kita hitung, stok di Bulog sekitar 4,5 juta ton, standing crop sekitar 10 juta ton, dan stok di horeka sekitar 10 juta ton. Total sekitar 25 juta ton. Sementara kebutuhan kita sekitar 2,5 juta ton per bulan. Artinya, ketersediaan kita sangat kuat,” jelas Amran.
Guna menjaga kelancaran pasokan jangka panjang, Kementan terus menjalankan sejumlah program strategis di lapangan. Langkah-langkah tersebut meliputi optimalisasi lahan tidur, akselerasi program pompanisasi, perbaikan jaringan irigasi sekunder dan tersier, hingga percepatan distribusi benih unggul bagi para petani di berbagai daerah. (MIF)



