(Foto: Ilustrasi siswa keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG)/AI/Jurnal-indonesia.com/)
NASIONAL, JURNAL-INDONESIA.COM || Kasus dugaan keracunan massal yang berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, meluas. Peristiwa ini tidak hanya menimpa Pondok Pesantren Manbaul Hikam, melainkan juga merambah ke belasan lembaga pendidikan lainnya di Kecamatan Tanggulangin.
Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Satgas Makan Bergizi Gratis (MBG) Jatim, Emil Elestianto Dardak, mengungkapkan bahwa ada 19 lembaga pendidikan di Kecamatan Tanggulangin yang turut melaporkan keluhan serupa. Seluruh sekolah tersebut diketahui menerima pasokan makanan dari dapur yang sama, yakni Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tanggulangin Kalitengah.
“Selain dari pondok pesantren beliau, Mambaul Hikam, ada juga dari sekolah-sekolah lain yang mengalami keluhan. Kesamaannya adalah konsumsi dari SPPG yang sama, SPPG Tanggulangin Kalitengah,” ujar Emil Elestianto Dardak saat memberikan keterangan.
Emil merinci bahwa 19 lembaga pendidikan yang terdampak ini berasal dari berbagai jenjang pendidikan. Mulai dari pondok pesantren, sekolah menengah atas (SMA) swasta, sekolah menengah pertama (SMP), sekolah dasar (SD), hingga taman kanak-kanak (TK).
Banyaknya lembaga yang mengalami keluhan serupa menjadi salah satu fokus utama dalam investigasi yang tengah berjalan. Hingga kini, pemerintah bersama instansi terkait masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium secara menyeluruh untuk memastikan penyebab pasti insiden tersebut.
Di sisi lain, Emil turut mengapresiasi kesigapan tim medis dan pemerintah daerah dalam menangani para korban. “Kami ingin mengapresiasi Rumah Sakit Notopuro, Ibu Kadinkes, yang sudah bersama BPBD Sidoarjo dan Pemkab Sidoarjo, tentunya Pak Bupati, yang sudah melakukan penanganan secara sigap,” tambahnya.
Ia juga meluruskan informasi yang sempat beredar di tengah masyarakat mengenai adanya korban meninggal dunia dalam insiden tersebut. Emil memastikan bahwa kabar tersebut adalah hoaks dan tidak ada korban jiwa. “Tadi ada kabar, mohon maaf, meninggal. Itu tidak betul. Tidak ada yang meninggal,” tegasnya.
Terkait fasilitas penyedia makanan, Emil menyebutkan bahwa SPPG Kalitengah sebenarnya telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Dari hasil penelusuran awal, fasilitas, sarana, dan prasarana dapur tersebut dinilai sudah memadai.
“SPPG ini sudah memperoleh SLHS. Kita telusuri, catatan-catatan asesmen juga menunjukkan sarana prasarananya memadai. Tenaga-tenaganya juga banyak yang sudah mengikuti sertifikasi penjamah makanan, sertifikasi halal pun juga sudah diperoleh,” jelas Emil.
Meski demikian, Emil menegaskan bahwa kepemilikan sertifikasi tidak serta-merta menutup kemungkinan terjadinya kelalaian atau persoalan dalam proses produksi makanan. Menurutnya, SLHS hanya menilai sistem dan kelayakan sarana-prasarana secara umum.
Ia menduga masalah bisa muncul pada tahap lain, seperti kualitas bahan baku awal atau pelaksanaan proses produksi dan distribusi yang menyimpang dari Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah ditetapkan. “Kalau misalnya bahan makanannya dari awalnya, atau timing pelaksanaan menyimpang dari SOP yang diverifikasi, itu bisa saja menyebabkan masalah,” tuturnya.
Sementara itu, Wakil Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Jawa Timur, Teguh Bayu Wibowo, menyatakan pihaknya langsung bergerak cepat mendatangi lokasi SPPG Kalitengah Tanggulangin begitu menerima laporan kejadian keracunan tersebut.
Sebagai langkah antisipasi lanjutan, Teguh memastikan bahwa operasional dapur MBG tersebut kini telah dihentikan sementara waktu. Keputusan ini diambil sambil menunggu hasil evaluasi menyeluruh dan pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan.
“Kami mendapatkan informasi langsung dan bergerak ke SPPG. Untuk saat ini, SPPG kita berhenti operasional,” kata Teguh Bayu Wibowo.
Teguh menjelaskan, dalam operasional sehari-hari, SPPG Kalitengah Tanggulangin biasanya memproduksi sekitar 2.800 porsi makanan MBG yang didistribusikan ke berbagai sekolah dan pesantren di wilayah tersebut. Dari jumlah itu, sekitar 1.000 porsi dialokasikan khusus untuk santri di Ponpes Manbaul Hikam.
Pihak Dinas Kesehatan Sidoarjo bersama kepolisian juga telah mengamankan sejumlah sampel makanan yang diduga menjadi pemicu keracunan untuk diuji di laboratorium.
“Hasil lab dan lain-lain kita tunggu untuk satu minggu ke depan,” pungkas Teguh. Keputusan lanjutan mengenai status operasional dapur โapakah penutupan bersifat sementara atau permanenโ akan ditentukan oleh BGN pusat setelah hasil evaluasi resmi keluar.
Temuan Paket MBG Busuk di SMAN 1 Tanjungpandan, Belitung
Persoalan dalam penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG) tampaknya tidak hanya terjadi di Sidoarjo. Sebelumnya, di Kabupaten Belitung, tepatnya menimpa para siswa di SMA Negeri 1 Tanjungpandan, beredar video dan laporan yang menunjukkan bahwa paket MBG yang hendak dikonsumsi oleh siswa ternyata dalam kondisi busuk serta dinilai berbahaya.
Makanan tidak layak konsumsi tersebut diketahui merupakan hasil pasokan dan pengelolaan dari SPPG Air Saga, Tanjungpandan, Kabupaten Belitung Provinsi Bangka Belitung.
Kendati temuan ini telah memicu keresahan di kalangan wali murid dan siswa, hingga berita ini ditayangkan, redaksi masih terus berupaya untuk meminta klarifikasi resmi serta tanggapan lebih lanjut dari pihak berwenang maupun pengelola SPPG Air Saga di Belitung. (Red)



