(Foto: Kondisi antrian BBM di SPBU Air Merbau Kecamatan Tanjungpandan Belitung, Senin (21/9/2026)/Ist/JIC)
BELITUNG, JURNAL-INDONESIA.COM || Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang melanda Pulau Belitung kian memprihatinkan. Pasokan BBM jenis Pertamax, Pertalite, hingga Biosolar dilaporkan mengalami penurunan drastis hingga kekosongan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).
Kondisi yang dinilai belum pernah terjadi sebelumnya ini mulai melumpuhkan aktivitas masyarakat, termasuk mengganggu operasional Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan pemerintah daerah setempat.
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, pasokan Pertamax ke sejumlah SPBU dilaporkan terhenti sejak Selasa hingga Jumat pekan lalu. Pasokan sempat masuk pada Sabtu, namun jumlahnya sangat terbatas.
“Kondisinya seperti ini. Pertamax Selasa, Rabu, Kamis, Jumat tidak masuk. Sabtu hanya masuk tiga ton. Minggu, Senin sampai hari ini tidak masuk. Faktanya, Pertamax baru meluncur dari Bangka ke Belitung,” ungkap seorang sumber yang mengetahui langsung dinamika distribusi BBM di lapangan kepada media.
Tidak hanya Pertamax, pengiriman BBM jenis Biosolar dan Pertalite juga mengalami pemotongan pasokan secara signifikan:
- Biosolar:ย Alokasi yang biasanya mencapai 10 hingga 15 ton per SPBU, kini dipangkas menjadi hanya sekitar 5 ton.
- Pertalite:ย Pengiriman yang normalnya berada di angka 16 hingga 20 ton per SPBU, kini hanya terealisasi sekitar 50 persen dari kuota biasa di beberapa lokasi.
“Biasanya Pertalite di setiap SPBU disalurkan 16 sampai 20 ton. Namun, beberapa SPBU hanya menerima sekitar 50 persen dari distribusi yang seharusnya,” tegas sumber tersebut.
Kontras dengan Klaim Pertamina
Penurunan pasokan secara mendadak ini memicu gelombang kekecewaan di tengah masyarakat. Pasalnya, kondisi riil di lapangan bertolak belakang dengan pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh pihak Pertamina Patra Niaga.
Sebelumnya, Sales Branch Manager (SBM) Belitung Pertamina Patra Niaga, Rafli Alhaq, sempat menyatakan bahwa stok Pertalite dan Pertamax di Pulau Belitung berada dalam kondisi aman. Namun, hasil pemantauan independen dan konfirmasi langsung ke petugas lapangan menunjukkan fenomena sebaliknya.
“Kondisi kekacauan BBM di Belitung seperti ini baru pertama kali terjadi selama Belitung berdiri. Kami sudah melakukan pengecekan kepada petugas Pertamina secara diam-diam,” ia menambahkan.
Ia menilai perbedaan narasi antara pejabat resmi dan fakta lapangan membuat warga merasa dibohongi di tengah kesulitan mendapatkan bahan bakar.
“Kasihan masyarakat kalau hanya mendengarkan kata SBM yang menyebut stok aman, tetapi kondisi riil di lapangan jauh dari apa yang disampaikan. Dengan kondisi seperti ini, warga Pulau Belitung merasa seperti ‘diprank’. Sebelumnya disebut stok Pertalite dan Pertamax aman, tetapi kenyataannya distribusi di lapangan justru mengalami pengurangan dan kekosongan,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat berharap pihak Pertamina Patra Niaga dan pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk menormalisasi alokasi serta jalur distribusi BBM dari Bangka menuju Belitung guna mencegah kelumpuhan ekonomi yang lebih luas. (Red)



